Pemberian yg sudah diberikan dan sudah diterima , tidak boleh ditarik kembali karena yg seperti itu bagaikan anjing yg menjilat muntahnya sendiri. Perumpamaan ini dinyatakan Nabi s.a.w., sebagaimana Ibn. Abbas r.a. meriwayatkan , maksudnya:
" Orang yg meminta kembali barang yg diberikannya, adalah seperti anjing yg muntah kemudian dijilat kembali muntahannya itu". Riwayat Bukhari.
Terkecuali jika pemberian itu adalah pemberian ibu-bapak kepada anaknya, sebagaimana Nabi s.a.w. bersabda diriwayatkan oleh ibn. Umar r.a. maksudnya : "Tidak halal bagi seorang muslim yg telah memberikan sesuatu, lalu meminta kembali pemberiannya itu kecuail pemberian bapa kepada anaknya". Riwayat Bukhari
Ibu /bapak yg meminta kembali pemberian yg telah diberikan kepada anaknya halal apabila barang yg diberikan masih ada di dalam milik anaknya. Apabila barang itu sudah berpindah tangan misal dijual, maka tidak boleh diminta kembali. Ibu bapak boleh meminta kembali barang yg telah diberikan kepada anaknya apabila mereka sedang membutuhkan. Mengenai masalah ini Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa nabi s.a.w. bersabda maksudnya:
"Sebaik-baik usaha seorang lelaki ialah daripada nak lelakinya, oleh karena itu kamu ambillah daripada harta mereka itu(anak-anakmu itu)" Riwayat Ahmad.
Ibu bapak berhak atas harta anaknya
Diceritakan bahwa seorang lelaki mengadu kepada Rasulullah s.a.w. bahwa bapaknya sering mengambil harta miliknya di luar pengetahuannya. Lalu Rasulullah s.a.w. memanggil bapak lelaki itu untuk mendengar dan mendapatkan keterangan. Bapak lelaki itu mengadukan,katanya:
"Bahwa saya tidak memungkiri telah mengambil sebagian harta anak saya itu. Semasa saya muda dulu, saya selalu menjaga dan merawat anak saya yg sering sakit sehingga saya juga ditimpa sakit. Sekarang saya telah tua, sepatutnya dia mengambil beban diri saya seperti saya telah lakukan merawat dia semasa kecil dahulu.Saya mengambil hartanya untuk keperluan ibunya dan saya yg telah tua. Wahai anak!jika kamu tidak sudi menjaga aku sebagai seorang bapak, anggaplah aku sebagai tetanggamu, karena setidaknya kamu masih berkewajiban mengambil tahu tetanggamu itu".
Setelah Rasulullah s.a.w. mendengar penjelasan dari bapak lelaki itu. Baginda bersabda kepada lelaki itu, maksudnya:"Sesungguhnya dirimu dan hartamu adalah untuk bapakmu".
No comments:
Post a Comment